Skrining Kesehatan Penyakit Tidak Menular Dan Edukasi Pengelolaan Sampah Obat Bersama BPOM Samarinda

Authors

  • Andi Fadilla Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda,Indonesia
  • Ariska Wigatiningtyas Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda,Indonesia
  • Alya Nur Amalia Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda,Indonesia
  • Burhanuddin Gasim Soka Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nasional,Indonesia
  • Muhammad Marwan Ramadhan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda,Indonesia
  • Eko Siswanto Syamsul Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nasional,Indonesia
  • Hayatus Sa'adah Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda,Indonesia
  • Saidah Saidah Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nasional,Indonesia
  • Diana Kurnia Apriani Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda,Indonesia
  • Agustiqori Al Mubarak Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nasional,Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.46808/jurnalbengawan.v6i1.261

Keywords:

skrining kesehatan; konsultasi Apoteker; ABSONESIA; limbah obat; edukasi masyarakat

Abstract

Peningkatan penyakit tidak menular, rendahnya literasi penggunaan obat, serta pengelolaan limbah obat rumah tangga yang belum optimal memerlukan intervensi kesehatan berbasis komunitas yang mudah diakses. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memfasilitasi deteksi dini kesehatan, meningkatkan pemahaman penggunaan obat rasional, mengedukasi cara pembuangan sampah obat yang benar, serta memperkuat literasi masyarakat dalam memilih jamu dan produk kesehatan yang aman. Kegiatan dilaksanakan di Gelora Kadrie Oening Samarinda pada 26 April 2026 melalui skrining kesehatan, konsultasi Apoteker, Aksi ABSONESIA, KIE Keliling, dan Gerakan JAWARA bersama BPOM Samarinda. Sasaran kegiatan adalah masyarakat umum lintas usia yang beraktivitas di area kegiatan. Evaluasi dilakukan secara deskriptif berdasarkan jumlah peserta, hasil pemeriksaan klinis, jenis konsultasi, dan respons peserta terhadap edukasi. Kegiatan diikuti oleh 78 peserta, dengan 57 peserta menjalani skrining tekanan darah, gula darah sewaktu, asam urat, dan kolesterol. Hasil menunjukkan 20 peserta (35%) memiliki tekanan darah di atas normal dan ditemukan dua kasus hiperglikemia berat yang memerlukan edukasi serta rujukan. Konsultasi Apoteker membantu mengidentifikasi ketidakpatuhan terapi, potensi interaksi obat-penyakit, dan kebutuhan tindak lanjut ke fasilitas kesehatan. Program juga meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pembuangan obat rusak/kedaluwarsa dan penggunaan BPOM Mobile. Kegiatan ini menunjukkan bahwa kolaborasi perguruan tinggi, Apoteker, dan BPOM dapat mendukung layanan preventif, farmakoterapi rasional, dan keamanan produk kesehatan di masyarakat.

Downloads

Published

2026-06-25

Issue

Section

Articles